-->
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2013

Kue Lebaran: Geometri Euclides

Masih dalam rangka belajar menulis dengan menggunakan LaTeX, kali ini saya sajikan catatan kuliah saya pada mata kuliah DM 241 Geometri Euclides dari Bapak Drs. Samjoeto di Institut Teknologi Bandung pada tanggal 22 Agustus s.d. 8 September 1988 dalam 5 kali perkuliahan.

Naskah ini saya tulis dengan memanfaatkan write LaTeX. Ternyata, untuk anggota gratisnya, write LaTeX membatasi jatah pengunggahan gambar hingga 60 buah saja, padahal untuk materi ini tentu saja saya memerlukan banyak gambar. Karena baru belajar, saya belum bisa memproduksi gambar langsung dengan menggunakan LaTeX. Dengan demikian tulisan geometri Euclides ini akan terbit dalam beberapa bagian.

Bila dalam naskah ini terdapat kesalahan konsep, dimohon untuk diberitahukan disertai dengan perbaikannya.
Demikian semoga bermanfaat!


Adjie Gumarang Pujakelana, 2013




-->

Minggu, 09 Desember 2012

Teori Bilangan #7


Kekongruenan
Definisi
Andaikan ab, dan m bilangan bulat dengan m > 0.
Dikatakan bahwa a º b (mod m) jika dan hanya jika m\(a – b) atau $k bulat demikian sehingga a – b = km.

Contoh:
11 º 5 (mod 3) karena 3\(11 – 5) = 6.


Teorema 1
Kekongruenan adalah suatu relasi ekuivalen.

Bukti:
(i)      a º a (mod m) karena m\(aa) = 0
(ii)    Misalkan a º b (mod m) maka m\(ab) demikian sehingga m\–(ab) = ba.
        Jadi b º a (mod m).
(iii)   Misalkan a º b (mod m) dan b º c (mod m) maka m\(ab) dan m\(bc) demikian sehingga
      m\(ab) + (bc) = ac.
        Jadi a º c (mod m).


Teorema 2
a º b (mod m) jika dan hanya jika a dan b mempunyai sisa yang sama pada pembagian dengan m.

Bukti:
(i)      Misalkan a º b (mod m) maka $k bulat demikian sehingga a = b + km.
        Misalkan pula b = qm + r dengan 0 £ r < m, maka a = b + km = (qm + r) + km = m(k + q) + r.
        Jadi a dan b mempunyai sisa yang sama (sebesar r) pada pembagian dengan m.
(ii)    Misalkan a = q1m + r dan b = q2m + r maka ab = (q1 - q2)m sehingga m\(ab).
        Jadi a º b (mod m).


Teorema 3
Jika a º b (mod m) maka untuk setiap bilangan bulat x berlaku:
(i)         a + x º b + x (mod m)
(ii)       ax º bx (mod m)
(iii)     -a º -b (mod m)

Bukti:
a º b (mod m)             ®        m\(ab)
(i)       Karena m\(ab) maka m\(a + x) – (b + x), sehingga a + x º b + x (mod m).
(ii)      Karena m\(ab) maka m\x(a b) ® m\(ax bx), sehingga ax º bx (mod m).
(iii)     Karena m\(ab) maka m\–(a b) ® m\(–a – (–b)), sehingga -a º -b (mod m).


Teorema 4 – Hukum Pembatalan (Cancellation)
Jika c dan m koprima sedangkan ca º cb (mod m) maka a º b (mod m).

Bukti:
ca º cb (mod m)          ®        m\(cacb) sehingga m\c(ab)
Karena c dan m koprima atau (c, m) = 1, maka berdasarkan Teorema 2 Dalil dasar Ilmu Hitung, haruslah m\(ab). 
Jadi a º b (mod m).


Teorema 5
Jika (c, m) = 1 maka persamaan cx º b (mod m) selalu mempunyai solusi dan solusi ini tunggal mod m.

Bukti:
(i)         (c, m) = 1 maka $s, t bulat demikian sehingga 
          1 = sc + tm              kalikan dengan b
 b = bsc + btm             
 b - bsc = (bt)m
        m\(bbsc)
        b º bsc (mod m)
        c(bs) º b (mod m)       karena kongruensi adalah relasi ekuivalen
         \ x = bs adalah suatu solusi dari cx º b (mod m).
(ii)       Misalkan x1 dan x2 masing-masing adalah solusi dari cx º b (mod m) maka
        cx1 º b (mod m)                                                          ……………………. (*)
        cx2 º b (mod m)             ®     b º cx2 (mod m)         ……………………. (**)
         Berdasarkan Teorema 1, dari (*) dan (**) diperoleh cx1 º cx2 (mod m).
         Karena (c, m) = 1 maka x1 º x2 (mod m).
         Jadi cx º b (mod m) mempunyai solusi tunggal mod m.

Akibat
Jika m = p (bilangan prima) dan (c, p) = 1, maka cx º b (mod p) mempunyai suatu solusi dan solusi itu tunggal mod p.


Teorema 6
Jika (m1m2) = 1 maka kedua persamaan x º b1 (mod m1) dan x º b2 (mod m2) mempunyai solusi persekutuan (solusi bersama). Setiap dua solusi adalah kongruen mod m1m2.

Bukti:
Jelas b1 adalah suatu solusi dari persamaan x º b1 (mod m1), karena b1 º b1 (mod m1).
Solusi umumnya adalah b1 + ym1 dengan y bulat.
b1 + ym1 º b1 (mod m1), karena m1\(b1 + ym1b1) = ym1.
Substitusi solusi tersebut ke persamaan kedua menghasilkan
b1 + ym1 º b2 (mod m2)
ym1 º b2b1 (mod m2)
m1y º  b2 – b1 (mod m2)           ini adalah suatu persamaan dalam variabel y
Karena (m1, m2) = 1 maka, menurut Teorema 5, persamaan tersebut selalu mempunyai solusi (dapat dipenuhi oleh suatu nilai y).
Misalkan x1 dan x2 adalah solusi persekutuan, maka
x1 º b1 (mod m1) dan x2 º b1 (mod m1), sehingga x1 º x2 (mod m1)    ®      m1\(x1x2)
x1 º b2 (mod m2) dan x2 º b2 (mod m2), sehingga x1 º x2 (mod m2)    ®   m2\(x1 – x2)
Karena (m1m2) = 1 maka, menurut Teorema 3 Dalil Dasar Ilmu Hitung, m1m2\(x1 – x2).
Jadi x1 º  x2 (mod m1m2).
______________________________________________________________________________________________________
Kuliah 6 Teori bilangan oleh Drs. Bachtiar Sjarif, Institut Teknologi Bandung, 21 Desember 1988



-->

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...